PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Muhammad Husni Thamrin

Muhammad Husni Thamrin lahir di Sawah Besar, Jakarta. Putra Betawi ini menyelesaikan pendidikan menengahnya di Konnieg Williem II, kemudian bekerja di kantor kepatihan. Prestasinya yang baik membuatnya dapat bekerja di kantor residen Batavia, lalu di perusahaan pelayaran Koninkiijke Paketvaari Maatschappij (KPM). Tahun 1923, beliau mendirikan Persatuan Kaum Betawi untuk memajukan warga Jakarta setelah sebelumnya diangkat menjadi anggota Dewan Kota Batavia (Jakarta).

Pada tahun 1927, beliau menjadi anggota Volksraad. la membentuk fraksi nasionalis untuk memperkuat gerakan nasionalisme di dewan tersebut. Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk mengungkapkan betapa besar penderitaan buruh perkebunan di Sumatera. Hal ini mendapat simpati dan banyak Negara sehingga peraturan Belanda, yaitu poenale sanctie (ancaman hukuman terhadap pekerja perkebunan) yang memberatkan rakyat dihapus.

Beliau kemudian bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra). BeIìau menjadi ketua Parindra menggantikan dr. Sutomo yang meninggaidi tahun 1938. Perjuangannya di Volksraad dilanjutkan dengan mengajukan mosi penggunaafl nama Indonesia sebagai ganti Nederlands Indic yang ditolak Belanda. Dalam perjuangannya, Thamrin memang Iebih memilih jalur kooperatif atau bersedia bekerjasama dengan penjajah, tetapi tidak kehilangan nasionalisme dan prinsipnya. Beliau pun menolak mengibarkan bendera Belanda di hari kelahiran Ratu Wilhelmina, 31 Agustus 1940. Beliau meninggal karena sakit dan upacara pemakamannya di TPU Karet dihadiri Iebih dari 20.000 orang.

  • Tempat/Tgl Lahir: Jakarta, 16 Februari 1894
  • Tempat/tgl Wafat: Jakarta, 11 Januari 1941
  • Sk Presiden: Keppres No 175 Tahun 1960, Tgl.28 Juli 1960
  • Gelar: Pahlawan Nasional

Selain sebagai pejuang, M.H Thamrin merupakan seorang pedagang yang berhasil. Dengan uangnya sendiri, ia membeli sebuah bangunan di Jalan Kenari, Jakarta, untuk keperluan perjuangan dan lapangan di daerah Petojo, Jakarta, sebagai tempat bermain bola anak-anak Betawi yang dilarang bermain di daerah Menteng. Bangunan di Jl. Kenari ini kemudian menjadi Museum M.H Thamrin

Comments

Komentar

,
←More from M

↑ Back to Top