PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Raden Eddy Martadinata

Biografi Raden Eddy Martadinata

Raden Eddy Martadinata mengenyam pendidikan dan HIS di Lahat (1927-1934), MULO-B di Bandung (1934-1938), dan AMS Jakarta (1938-1941). Beliau kemudian belajar di Zeevaart Technische School, Jakarta, pada tahun 1942, tetapi tidak sampai tamat karena masuknya tentara Jepang. Pada tahun 1943, pemerintah pendudukan Jepang membuka kesempatan bagi para pemuda pribumi untuk masuk Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT). Raden Eddy Martadinata berhasil menyelesaikan dengan nilai terbaik sehingga ia diangkat menjadi Guru SPT Jakarta. Di sela mengajarkan ilmu kelautan kepada munid-muridnya, Raden Eddy Martadinata juga menanamkan jiwa nasionalisme dengan semboyan “Kuasailah Lautanmu’.

Masih dalam Iingkungan SPT, ia diberi kepercayaan untuk memimpin kapal latih Dai-28 Sakura Maru pada tanggal 1 Nopember 1944. Dengan bekal keahliannya dalam ilmu pelayaran, Raden Eddy Martadinata bersama para pemuda lulusan SPT dan para pelaut dan Jawatan Pelayaran Jawa Unko Kaisya ikut aktif membantu persiapan kemerdekaan dengan membentuk Barisan Banteng Laut. Setelah proklamasi dikumandangkan, para pemuda pelaut di bawah pimpinan Raden Eddy Martadinata melucuti senjata tentara Jepang, merebut kapal-kapal milik Jawatan Pelayaran Jawa Unko Kaisya, mengambil alih pelabuhan penting serta menduduki gedung dan kantor yang dikuasai militer Jepang. Tanggal 10 September 1945, para tokoh pelaut mendirikan Badan Keamanan Rakyat Laut Pusat (cikal bakal TNI AL) dipimpin M. Pardi yang bermarkas di JI. Budi Utomo, Jakarta Pusat. Raden Eddy Martadinata bersama dengan Adam menjadi staf pembantu didukung oleh Darjaatmaka, R. Surjadi dan Oentoro Koesmardjo.

Dunia pendidikan selalu dekat dengan perjuangannya yaitu ketika diangkat menjadi komandan Latihan Opsir Kilat ALRI di Kalibakung. Ketika meletus Agresi Militer I Belanda, ia bersama-sama dengan para siswa terjun ke medan pertempuran dan bergerilya menghadapi Belanda di sektor Tegal dan Pekalongan. Usai bertempur, ia ditunjuk untuk membuka pendidikan perwira Basic Operation School di Sarangan sebagai kelanjutan pendidikan di Kalibakung. Sejak tanggal 1 Desember 1948, Raden Eddy Martadinata mendampingi KSAL R. Soebijakto membentuk Angkatan Laut Daerah Aceh (ALDA) untuk mengorganisir armada penyelundup, Training Station Serang Jaya, dan kebutuhan logistik.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Bandung, 29 Maret 1921
  • Tempat/Tgl. Wafat : Riung Gunung, 6 Oktober 1966
  • SK Presiden : Keppres No. 220/TK/1966, Tgl. 7 Oktober 1966
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Setelah pengakuan kemerdekaan, Belanda menyerahkan dua korvet kepada pemerintah RI dan Raden Eddy Martadinata menjadi salah satu komandan kapal yang diberi nama RI Hang Tuah. Perjalanan karirnya terus menanjak dan dipercaya menjadi Komandan Kesatuan ALRI di Italia untuk mengawasi pembuatan dua kapal korvet dan dua kapal fregat pesanan Indonesia. Martadinata mencapai puncak karir di ALRI ketika diangkat menjadi KSAL pada tanggal 17 JuIi 1959. Pengabdian kepada bangsa dan negara dilañjutkan ketika diangkat menjadi Duta Besar dan Berkuasa Penuh di Pakistan pada tanggal 1 September 1966. Pada saat peringatan HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1966, ia datang ke Jakarta untuk menerima kenaikan pangkat menjadi Laksamana di Istana Negara. Raden Eddy Martadinata

Comments

Komentar

, ,
←More from E

↑ Back to Top