PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Pakubuwono X

Biografi Pakubuwono X

Pakubuwono X atau lengkapnya Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X adalah putera Pakubuwono IX dan Permaisuri Raden Ayu Kustiyah. Nama kecil beliau adalah Raden Mas Gusti Sayidin Malikul Kusno dan pada usia 3 tahun telah ditetapkan sebagai putera mahkota. Tiga tahun sebelum bertahta, Pakubuwono X menikahi puteri Kanjeng Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Mangkunegara IV bernama Bendoro Raden Ajeng Sumarti. Setelah sang ayah meninggal, beliau dinobatkan sebagai raja pada tanggal 30 Maret 1893.

Semasa berkuasa selama 48 tahun, Pakubuwono X menjadi pendorong di balik layar pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Pada masa itu, Surakarta menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang dapat mengibarkan bendera gula kelapa atau Merah Putih, bukan bendera Belanda. Beliau secara terbuka atau diam-diam mendukung organisasi politik kebangsaan pada awal abad ke-20. Beberapa pergerakan nasional juga lahir di Solo, seperti Serikat Dagang Islam pada 1905. Budi Utomo yang berdiri di Batavia (Jakarta), juga mendapatkan dukungan kuat dan banyak beroperasi di Solo. Beliau pun aktif mendorong kerabat keraton untuk belajar dan mendukung pergerakan nasional.

Dalam bidang social ekonomi, beliau memberikan kredit untuk pembangunan rumah bagi warga kurang mampu. Ia juga membangun sejumlah pasar dan rumah sakit. Di bidang pendidikan, Pakubuwono X mendirikan sekolah Pamardi Putri dan Kasatriyan. Beberapa peninggalan beliau yang masih terlihat hingga sekarang adalah Pasar Klewer dan Stasiun Solo Balapan.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Surakarta, 29 November 1866
  • Tempat/Tgl. Wafat : Surakarta, 1 Februari 1939
  • SK Presiden : Keppres No. 113/TK/2011, Tgl. 7 November 2011
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Pakubuwono X juga berhasil menyatukan trah Mataram yang terpecah sejak tahun 1755 melalui pernikahan. Setelah tidak dapat memiliki keturunan dari permaisurinya, beliau menikah lagi dengan puteri Sultan Hamengku Buwono VII dari Kesultanan Yogyakarta yang bernama Gusti Bandara Raden Ajeng (GBRAj) Mur Sudarinah. Pernikahan agung kedua kerajaan itu berlangsung pada 27 Oktober 1915, dan setelah diangkat menjadi isteri permaisuri, GBRAj Mur Sudarinah bergelar Kanjeng Ratu Hemas. Pakubuwono X

Comments

Komentar

←More from P

↑ Back to Top