PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Pahlawan Bali I Gusti Ngurah Rai

Biografi Pahlawan I Gusti Ngurah Rai

I Gusti Ngurah Rai merupakan anak kedua dan tiga bersaudara putra I Gusti Ngura Palung. Waktu kecil, beliau belajar di HIS Denpasar lalu melanjutkan ke MULO di Malang. Setelah lulus, Ngurah Rai yang memang tertarik dengan dunia militer bergabung di sekolah kader militer, Prayodha Bali, Gianyar. Pada tahun 1940, Ngurah Rai dilantik sebagai letnan dua yang kemudian melanjutkan Pendidikan di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO) Magelang, dan Pendidikan Artileri, Malang.

Setelah kabar Indonesia merdeka sampai di Bali pada akhir Agustus 1945, beliau pun bergabung dalam BKR yang kemudian berganti nama menjadi TKR. Pengalamannya di dunia militer membuatnya diangkat sebagai komandan TKR Sunda Kecil. Beliau kemudian merasa perlu melakukan konsolidasi dengan Pimpinan TKR Pusat yang saat itu bermarkas di Yogyakarta. Ngurah Rai lantas dilantik menjadi komandan Resimen Sunda Kecil.

Sekembalinya di Bali, Ngurah Rai mendapati bahwa Belanda telah menduduki Bali. Ngurah Rai kemudian membentuk pasukan yang dijuluki Ciung Wanara guna menghadapi Belanda. Hasil Perjanjian Linggarjati yang menyebutkan bahwa Belanda hanya mengakui kekuasaan Indonesia atas pulau Jawa, Madura, dan Sumatera mengecewakan Ngurah Rai. Meskipun Bali diakui menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur bikinan Belanda, beliau tetap melakukan perlawanan terhadap Belanda.

  • Tempat/Tgl. Lahir      : Badung, 30 Januari 1917
  • Tempat/Tgl Wafat       : Margana, 20 November 1946
  • SK Presiden                    : Keppres No. 063/TK/Tahun 1975, Tgl. 9 Agustus 1975
  • Gelar                                 : Pahlawan Nasional

Pada tanggal 18 November 1946, Ngurai Rai menyerang Tabanan.Akibatnya satu datasemen Belanda menyerah. Hal ini memicu Belanda untuk mengerahkan kekuatannya yang ada di seluruh Bali dan Lombok. Dalam pertempuran tersebut, pertahanan demi pertahanan yang dibentuk Ngurah Rai dihancurkan Belanda hingga sampai pada pertahanan terakhir Ciung Wanara, Desa Margarana. Ngurah Rai dan pasukannya yang terdesak tidak mau menyerah. Beliau kemudian mengumandangkan seruan puputan yang berarti perang habis-habisan. Beliau gugur dengan gagah berani bersama pasukannya. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 20 November 1946 dan dikenang sebagai Puputan Margarana. I Gusti Ngurah Rai dimakamkan bersama anggota pasukannya di Pemakaman Taman Puja Bangsa Margarana

Comments

Komentar

,
←More from I

↑ Back to Top