PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Jenderal TNI (Anumerta) Basuki Rahmat

Basuki Rahmat

Pendidikan umum terakhir Basuki Rahmat adalah Sekolah Guru Muhammadiyah di Yogyakarta. Saat Jepang menguasai Indonesia, beliau bergabung dengan PETA dan ditempatkan di Pacitan. Setelah Proklamasi dikumandangkan, beliau ikut membentuk BKR (yang kemudian namanya menjadi TKR, lalu TNI) Maospati. Selama Agresi Militer II Belanda berlangsung, beliau memimpin Batalyon 16 mempertahankan Bojonegoro. Ketika berumur 35 tahun, beliau bertugas menjadi Atase Militer RI di Australia selama tiga tahun.

Pada tahun 1956-1959, Basuki Rahmat bertugas sebagai Atase Militer RI di Australia. Sekembalinya dari Australia, beliau diangkat sebagal Asisten IV Kepala Staf Angkatan Darat yang bertugas mengurus semua  keperluan atau perbekalan Angkatan Darat. Pada tahun 1962, Basuki Rahmat diangkat sebagai Panglima Komando Militer VIII/ Brawijaya dengan pangkat mayor Jenderal dan bermarkas di Surabaya. Pada waktu pemberontakan G30S/PKI terjadi, dalam tubuh pasukan Komando Militer VIII/Brawijaya timbul keresahan akibat hasutan-hasutan yang dilakukan oleh PKI yang menganggap bahwa jenderal-jenderal Angkatan Darat akan melakukan kudeta kepada Presiden Sukarno. Basuki Rahmat berusaha menjaga agar tidak terjadi perpecahan tubuh TNI di wilayah Jawa Timur.

Pada Desember 1965, Basuki Rahmat diangkat sebagai Deputi Khusus Menteri/Panglima Angkatan Darat dan pada April 1966, Basuki Rahmat diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri dengan tugas utama memenangkan penentuan pendapat rakyat di Irian Barat pada tahun 1969.

  • Tempat/TgI. Lahir : Tuban, 14 November 1921
  • Tempat/Tgl. Wafat : Jakarta, 8 Januari 1969
  • SK Presiden : Keppres No. 10/TK/1969, Tgl 9 januari 1969
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Tanggal 11 Maret 1966, Basuki Rahmat bersama Brigjen. M. Yusuf dan Brigjen. Amir Machmud menghadap Presiden Sukarno di Istana Bogor. Dari hasil pertemuan tersebut, keluar Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang memberi kuasa kepada Jenderal Suharto untuk mengambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.10/ TK/1969, Jenderal Basuki Rahmat diangkat sebagai Pahlawan Nasonal.

Comments

Komentar

←More from B

↑ Back to Top