PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi I Gusti Ketut Jelantik Pahlawan Bali

Biografi I Gusti Ketut Jelantik Pahlawan Bali

Berikut ini Kisah tentang I Gusti Ketut Jelantik . Pertengahan abad 19, Belanda berusaha mewujudkan wilayah kekuasaannya di seluruh nusantara. Untuk itu, Belanda berupaya menguasai seluruh wilayah Bali. Pada tahun 1843, Belanda telah mampu memengaruhi beberapa raja di Bali untuk bekerja sama dengannya, termasuk meminta penghapusan Hukum Tawan Karang. Saat itu, Raja Buleleng pun terpaksa menandatangani kesepakatan tersebut.

Satu tahun kemudian, sebuah kapal Belanda terdampar di pantai wilayah Buleleng. Belanda memaksa raja mengembalikannya serta meminta pengakuan raja atas kekuasaan Belanda. I Gusti Ketut Jelantik sebagai patih kerajaan (diangkat tahun 1828) sangat marah. I Gusti Ketut Jelantik pun menyatakan tidak akan pernah mengakui kekuasaan Belanda selama masih hidup. Pada tahun 1845, kembali sebuah kapal terdampar di wilayah Buleleng. Penolakan tegas I Gusti Ketut Jelantik untuk mengembalikan kapal tersebut karena sikap Belanda yang tidak menghargai Kerajaan Buleleng memicu perang. Memang, Belanda sebenarnya mempermasalahkan kapal yang terdampar ini hanya sebagai dalih untuk melakukan serangan. Tepat pada Juni 1846, Belanda mengerahkan pasukan besar untuk menyerang Buleleng. Di akhir Juni, benteng Kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda. Raja dan Patih Jelantik kemudian mundur ke daerah Jagaraga untuk menyusun pertahanan. Permintaan Belanda untuk menyerah tidak diabaikan.

Pada tahun 1848, pasukan Belanda menyerang Jagaraga dipimpin Jenderal Van der Wijk. Dua kali serangan Belanda dapat digagalkan oleh pasukan Buleleng yang dibantu pasukan dan kerajaan lain di Bali. Akhirnya, pada tahun 1849 Belanda mengerahkan kembali pasukan besar yang dipimpin Jenderal Michels. Berbekal pemahaman mengenai kondisi Jagaraga dan pertempuran sebelumnya, Belanda berhasil memenangi pertempuran. I Gusti Ketut Jelantik  mundur ke Pegunungan Batur Kintamani. I Gusti Ketut Jelantik kemudian menuju Perbukitan Bale Pundak. Belanda yang terus mengejar kembali menyerang sisa pasukan I Gusti Ketut Jelantik yang melawan hingga beliau gugur dalam pertempuran.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Bali, Tidak diketahui
  • Tempat/Tgl. Wafat : Bali, April 1849
  • SK Presiden : Keppres No. 077/TK/1993, Tgl. 14 September 1993
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Tawan Karang (taban karang) merupakan hukum adat yang berlaku di Bali pada masa silam dan sudah dikenal sejak abad 10 M. Hukum ini membolehkan raja atau masyarakat wilayah pesisir untuk menyita kapal seisinya yang terdampar di wilayahnya. Tujuan hukum ini adalah menjaga wilayah kekuasaan dari masuknya musuh asing.

I Gusti Ketut Jelantik

Comments

Komentar

,
←More from I

↑ Back to Top