PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Herman Johannes

Biografi Herman Johannes

Herman Johannes atau akrab dipanggil Pak jo lahir di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Saat remaja, berbekal nilai tertinggi di sekolah menengah, beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Technische Hogerschool te Bandoen (THS).Setelah Proklamasi Kemerdekaan, THS berubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) yang kemudian pindah ke Yogyakarta dengan nama STT Bandung yang merupakan cikal bakal fakuItas
teknik UGM. Pak Jo adalah mahasiswa yang cerdas, ulet, dan kreatif. Bahkan, ia pernah memuat tulisannya di majalah terkemuka saat itu, yaitu De Ingenieu in Netherlandsch Indie. Sambi kuliah beliau juga mengajar di STT. Akhirnya pada Oktober 1946, Herman Johannes pun di wisuda Pak Jojuga sangat menyukai ilmu Fisika. Karena itu, meskipun mahasiswa teknik sipil, ia diberi kepercayaan mengajar ilmu fisika di sekolah kedokteran. Pada saat itu, Pak Jo juga berjuang sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili daerah Bali, NTB, dan NTT.

Di samping itu, Herman Johannes tercatat pernah berkarier di Bidang militer. Tanggal 4 November 1946, beliau menerima surat perintah yang ditandatangani Kapten Soerjosoemarno yang mengatasnamakan Kepala Staf Umum Kementerian Keamanan Rakyat, Letjen. Urip Sumohardjo, yang isinya Agar segera hadir dan melapor ke Markas Tertinggi Tentara di Yogyakarta. Ternyata, Herman Johannes diminta membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI. Laboratorium yang terletak di bangunan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Kotabaru ini berhasil memproduksi bermacam bahan peledak untuk kepentingan perjuangan.

Herman Johannes pun banyak membantu Menghambat gerakan pasukan Belanda saat melakukan Agresi Militer I dan II. Memenuhi permintaan Letkol Soeharto dan Kolonel GPH Djatikoesoemo, beliau memasang peledak di jembatan-jembatan penghubung Yogyakarta-Solo dan Yogyakarta-Kaliurang. Pengalaman bergerilya membuat Herman Johannes juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dan menjadi saksi sumbangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bersama Letnan Soesilo Soedarman dan Letnan Djajadi, Mayor Johannes pernah bertugas ke Wedi, Klaten, untuk melakukan koordinasi perjuangan. Mereka bertiga berangkat memakai seragam baru hadiah dari Sultan Hamengkubuwono IX. Sultan pun memberi gaji seratus rupiah Oeang Republik Indonesia (ORI) setiap bulan kepada para taruna Akademi Militer. Herman Johannes juga mengemukakan bahwa Sri Sultan dan Paku Alam bersama Komisi PBB menjemput para gerilyawan yang hendak masuk Kota Yogyakarta pada 29 Juni 1949.

Selanjutnya, Pak Jo kembali menekuni dunia pendidikan sebagai pengajar di Universitas Gadjah Mada. Herman Johannes tercatat sebagai salah seorang guru besar dan rektor UGM (1961-1966). Jabatan di pemerintahan yang pernah beliau emban antara lain adalah Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951) dan anggota DPA (1968—1978). Saat meninggal dunia, sesuai amanahnya, beliau dimakamkan di pemakaman keluarga besar UGM di Sawitsari, Yogyakarta.

  • Tempat/Tgl. Lahir :  Rote, 28 Mei 1912
  • Tempat/Tgl. Wafat :  Yogyakarta, 28 Mei 1912
  • SK Presiden : Keppres No. 58/TK/2009 Tgl. 9  November 2009
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Karya-karya tulis Prof. Dr. Ir. Herman Johannes baik yang dibukukan maupun dalam bentuk makalah serta pandangan pandangannya yang dimuat dalam surat kabar merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu dan teknologi antara lain mengenai fisika modern, matematika untuk ekonomi, dan pandangan kritisnya mengenai Timor Gap. Salah satu karya tulisnya “Fusi Dingin dalam Tabung Lucutan” dikerjakan pada saat-saat akhir hidupnya dan diseleaikan di ruang perawatannya.

Herman Johannes

Comments

Komentar

,
←More from H

↑ Back to Top