PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Alimin Prawirodirjo Sang Tokoh PKI

Biografi Alimin Prawirodirjo Sang Tokoh PKI

Alimin Prawirodirjo lahir di Solo pada tahun 1889. Sejak muda, beliau sudah dikenal sebagai salah seorang pemimpin pergerakan nasional menuju Indonesia merdeka. Saat remaja, karena kecerdasannya beliau mendapat beasiswa dan seorang pejabat Belanda untuk bersekolah di Batavia. Setelah lulus, beliau mulai menjadi wartawan, sebelum kemudian aktif dalam dunia pergerakan dengan bergabung ke dalam Budi Utomo, lalu Serikat Islam (SI). Di SI, Alimin menjadi tokoh berpengaruh bersama H.O.S Cokroaminoto dan Agus Salim. Beliau pun tetap aktif menulis mengkritik Belanda sehingga mendapat peringatan keras dan pejabat Belanda yang memberinya beasiswa. Beliau pun akhirnya memilih memutuskan hubungan keluarga secara baik dengan pejabat tersebut.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Surakarta, 1886
  • Tempat/Tgl. Wafat : Jakarta, 25 Juni 1964
  • SK Presiden : Keppres No. 162/TK/1964, Tgl. 26 Juni 1964
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Selanjutnya, Alimin terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante yang salah satu tugasnya adalah menetapkan Undang Undang Dasar bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Alimin selalu mengutamakan persatuan dan dialog dalam berjuang, serta tidak menyetujui model pembangunan atau politik dan luar negeri untuk begitu saja diterapkan di Indonesia. Dalam perjalanannya, Alimin kemudian menjadi dekat dengan gerakan aliran kiri di Indonesia dan tetap berjuang demi tanah air. Beliau meninggal di Jakarta dalam usia 78 tahun.

Alimin berkawan dengan Ho Chi Minh, tokoh nasionalis dari Vietnam, dan memberikan sumbangan pemikiran bagi perjuangan merebut kemerdekaan Vietnam dan penjajahan Perancis.

, ,

Biografi Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro

Biografi Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro

Nama asli Pangeran Diponegoro adalah Raden Mas Ontowiryo. Beliau termasuk garis keturunan Sultan Hamengku Buwono III. Ketika sultan ingin mengangkatnya menjadi raja, beliau menolak dan memilih meninggalkan keraton. Hal ini disebabkan beliau merasa tidak berhak sebagai anak dari seorang selir, bukan permaisuri. Diponegoro juga lebih tertarik pada kehidupan religius dan merakyat sehingga lebih suka tinggal di Tegalrejo, kediaman nenek buyutnya, Ratu Ageng Tegalrejo, permaisuri HB I. Lebih dari itu, Pangeran Diponegoro juga tidak suka akan campur tangan Belanda yang terlalu besar dalam keraton.

Puncak kemarahan Diponegoro muncul ketika Belanda hendak menggusur makam leluhurnya untuk membuat jalan. Sikap Belanda yang seenaknya tanpa menghargai budaya dan tradisi masyarakat setempat, ditambah penerapan pajak yang tinggi terhadap rakyat membuat Pangeran Diponegoro bangkit mengangkat senjata. Perang tersebut kemudian terkenal dengan nama Perang Diponegoro. Perang ini dimulai pada tanggal 20 Juni 1825 dan berlangsung selama 5 tahun yang tercatat sebagai salah satu perang terberat yang dihadapi Belanda.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Yogyakarta, 11 November 1785
  • Tempat/Tgl. Wafat : Makasar,  8 Januari 1855
  • SK Presiden : Keppres No. 087/TK/1973, Tgl. 6 November 1973
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Ketika Tegalrejo berhasil dikuasai Belanda, Pangeran Diponegoro berjuang secara bergerilya. Dengan hidup berpindah pindah, Belanda mengalami kesulitan menangkap Diponegoro. Belanda pun menerapkan taktik Benteng Stelsel untuk membatasi pergerakan Diponegoro. Untuk menangkapnya, Belanda membuat jebakan dengan mengundang Diponegoro berunding di Magelang. Pada tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro tertangkap dan dibuang ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makasar. Pada tanggal 8 Januari 1855, Pangeran Diponegoro meninggal dunia di Benteng Rotterdam, Makasar

, , , ,
 

↑ Back to Top