PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Izaak Huru Doko

Biografi Izaak Huru DokoMemperbincangkan sesosok para pahlawan yang sudah berjasa dalam memperjuangkan bangsa indonesia memang tidak akan pernah da habisnya. Sudah berapa pahlawan coba yang guugr dala medan perang dan berapa daerah pula yang mempunyai sosok – sosok pahlawan anak putra daerah dan putri daerah yang rela bekorban jiwa dan raga denga kemerdekaan ibu pertiwi?

Telah kitaketahui bersama, negara indonesia mepunyai wilayah yang sangat luas. Dengan luasnya wilayah membuat bangsa indonesiamepunyai banyak putra putri daerah yang relamengorbankan waktu, pikiran, jiwa dan ragamereka untuk bisa memperjuangkan bangsa indonesia.

Nah, dikesempatan kali ini, saya kembali saya ingin membahas sesosok pahlawan indonesia, beliau bernama Izaax Huru Doko yang dilahirkan di Nusa tenggara timur (NTT) pada tanggal 20 november 1913. Beliau adalah sosok pahlawan yang berasal dari daerah nusa tenggara timur (NTT)a bersekolah di Hollands Indlandsche Kweekschool (HIK, sekolah guru) di Bandung, Jawa Barat. Bersama Herman Johannes ia mendirikan Timorsche Jongeren (Pemuda Timor) dengan tujuan mempersatukan para pelajar Timor di berbagai kota di Indonesia.

,

Dr. Ferdinand Lumban Tobing

Ferdinand Lumban Tobing

Ferdinand Lumban Tobing lahir di Sibuluan, Sibolga, pada tanggal 19 Februari 1899.  Keluarganya kemudian pindah ke Jawa.  Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Depok, Bogor, ia melanjutkan pelajaran ke STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta dan tamat pada tahun 1924.  Setelah itu, ia bekerja sebagai dokter di CBZ (sekarang Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo) Jakarta bagian penyakit menular.  Dari situ Ferdinand Lumban Tobing dipindahkan ke Tenggarong (Kalimantan Timur), kemudian ke Surabaya sampai tahun 1935.  Selanjutnya, ia bertugas di Tapanuli, Padang Sidempuan, lantas pindah ke Sibolga.

Pada masa pendudukan Jepang, Ferdinand Lumban Tobing diangkat menjadi dokter pengawas kesehatan romusha. Ferdinand menyaksikan langsung bagaimana sengsaranya nasib para romusha yang dipaksa membuat benteng di Teluk  Sibolga dengan rasa sedih. Karena itu, beliau melakukan protes terhadap pemerintah Jepang. Akibatnya, beliau dicurigai dan termasuk dalam daftar orang terpelajar Tapanuli yang akan dibunuh oleh Jepang. Beliau terhindar dari bahaya maut sebab berhasil menyelamatkan nyawa seorang tentara Jepang yang jatuh dari kendaraan.

Pada tahun 1943, Ferdinand Lumban Tobing diangkat menjadi ketua Syu Sangi Kai (Dewan Perwakilan Daerah) Tapanuli di samping anggota Cuo Sangi In. Pada bulan Oktober 1945 beliau diangkat menjadi Residen Tapanuli. Sebagai residen, ia menghadapi saat-saat sulit ketika daerah Tapanuli dilanda pertentangan bersenjata antara sesama pasukan RI yang datang dan Sumatera Timur setelah daerah itu jatuh ketangan Belanda dalam Agresi Militer I Belanda. Namun, Tobing yang berpendirian tegas dan tidak mudah digertak berhasil mengatasinya. Dalam Agresi Militer II Belanda, beliau diangkat menjadi Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur Selatan yang memimpin perjuangan gerilya melawan Belanda.

Setelah pengakuan kedaulatan, Ferdinand Lumban Tobing ditawari menjadi Gubernur Sumatera Utara, tetapi tawaran itu ditolaknya. Dalam Kabinet Ali I, beliau diangkat menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan (ad interim), ia juga pernah menjadi Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah dan Menteri Negara Urusan Transmigrasi. Beliau meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 7 Oktober 1962.

  • Tempat/Tgl. Lahir :  Sibolga, 9 Februari 1899
  • Tempat/Tgl. Wafat :  Jakarta, 7 Oktober 1962
  • SK Presiden : Keppres No. 361/TK/1962, Tgl. 17 November 1962
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Ferdinand Lumban Tobing merupakan tokoh yang dikenal selalu dekat dengan rakyat kecil. Sebagai pemimpin, ia selalu memimpin langsung anak buahnya, termasuk turut berjuang keluar-masuk hutan.

 Ferdinand Lumban Tobing

 

↑ Back to Top