PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Mengenal Maria Josephine Catherine Maramis

Mengenal Maria Josephine Catherine MaramisMaria Josephine Catherine Maramis (lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872 – meninggal di Maumbi, Sulawesi Utara, 22 April 1924 pada umur 51 tahun), atau yang lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia karena usahanya untuk mengembangkan keadaan wanita di Indonesia pada permulaan abad ke-20.

Orang tuanya adalah Maramis dan Sarah Rotinsulu. Andries Maramis terlibat dalam pergolakan kemerdekaan Indonesia dan menjadi menteri dan duta besar dalam pemerintahan Indonesia pada mulanya.

Paman Maramis yaitu Rotinsulu yang waktu itu adalah Hukum Besar di Maumbi membawa Maramis dan saudara-saudaranya ke Maumbi dan mengasuh dan membesarkan mereka di sana.

Ini adalah satu-satunya pendidikan resmi yang diterima oleh Maramis dan kakak perempuannya karena perempuan pada saat itu diharapkan untuk menikah dan mengasuh keluarga.

Melalui kepemimpinan Maramis di dalam PIKAT, organisasi ini bertumbuh dengan dimulainya cabang-cabang di Minahasa, seperti di Maumbi, Tondano, dan Motoling. Cabang-cabang di Jawa juga terbentuk oleh ibu-ibu di sana seperti di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. Maramis terus aktif dalam PIKAT sampai pada kematiannya pada tanggal 22 April 1924.

Pada tahun 1919, sebuah badan perwakilan dibentuk di Minahasa dengan nama Minahasa Raad. Setelah pernikahannya dengan Walanda, ia lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis.

Biografi Pahlawan Nasional Muhammad Isa Anshary

Biografi Pahlawan Nasional Muhammad Isa Anshary

Muhammad Isa Anshary, mungkin banyak orang yang belum mengetahui tentang sesosok pahalwna nasional yan gsatu ini, nah dikesempatan kali ini, saya kembali ingin membahas tentang pahlawan tersebut. Ketika remaja ia aktif di berbagai organisasi keislaman, diantaranya Muhammadiyah, PSII, Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia, dan Indonesia Berparlemen.

Di Bandung pula, Muhammad Isa Anshary memperluas cakrawala keislamannya dalam Jam’iyyah Persis hingga menjadi ketua umum Persis. Tampilnya Isa Anshary sebagai pucuk pimpinan Persis dimulai pada 1940, ketika Muhammad Isa Anshary menjadi anggota hoofbestuur (Pimpinan Pusat) Persis. Tahun 1953 hingga 1960, ia terpilih menjadi ketua umum Pusat Pimpinan Persis.

Selain sebagai mubaligh, Muhammad Isa Anshary juga dikenal sebagai penulis yang tajam. Dalam bidang pembinaan kader, Muhammad Isa Anshary menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader muda Persis. Kepada Yahya Wardi yang menjabat ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis periode 1956-1962, Isa Anshary mengirimkan naskah “Renungan 40 Tahun Persatuan Islam” yang ia susun dalam tahanan untuk disebarkan kepada peserta muktamar dalam rangka meningkatkan kesadaran jamaah Persis. Melalui tulisannya, Muhammad Isa Anshary mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam dan perjuangan organisasi Persis. Dalam memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia, Isa memilih berjuang melalui parlemen.

Karya

  • Islam dan Demokrasi (1938)
  • Tuntunan Puasa (1940)
  • Islam dan Kolektivisme (1941)
  • Pegangan Melawan Fasisme Jepang (1942)
  • Barat dan Timur (1948)
  • Falsafah Perjuangan Islam (1949)
  • Sebuah Manifesto (1952)
  • Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953)
  • Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953)
  • Inilah Partai Masyumi (1954)
  • Islam dan Nasionalisme (1955)
  • Partai Komunis Indonesia (PKI), Pembela Negara Asing (1955)
  • Bahaya Merah Indonesia (1956)
  • Islam Menentang Komunisme (1956)
  • Manives Perjungan Persatuan Islam (1958)
  • Bukan Komunisto Fobi, tapi Keyakinan Islam (1960)
  • Ke Depan Dengan Wajah Baru (1960)
  • Pesan Perjuangan (1961)
  • Umat Islam Menentukan Nasibnya (1961)
  • Mujahid Dakwah (1966)
  • Tugas dan Peranan Generasi Muda Islam dalam Pembinaan Orde Baru (1966)

Dan melalui Partai Masyumi, Muhammad Isa Anshary konsisten memperjuangkan syariat Islam menjadi dasar-dasar negara.

,
 

↑ Back to Top