PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Siswondo Parman

Siswondo Parman ( S. Parman ) sebelumnya belajar disekolah tinggi kedokteran. Namun, beliau terpaksa berheni sekolah karena kedatangan Jepang ke Indonesia. Beliau kemudian bekerja di Jwatan Kenpeitai milik Jepang dan pernah ditangkap karena dicurigai sebagai pemberontak. Setelah dibebaskan, beliau justru dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan Kenpei Kasya Butai dan tetap bekerja di Jawatan Kenpeitai sekembali ke tanah air. Setelah proklamasi kemerdekaan, S. Parman masuk TKR dan diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta. Selama Agresi Militer II oleh Belanda, S. Parman ikut berjuang bersama pasukannya. Setelah pengakuan kedaulatan, beliau menjadi Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta. Saat itu, S. Parman berhasil mengungkap gerakan bawah tanah sisa-sisa anggota tentara APRI yang dipimpin Westerling.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Wonosobo, 4 Agustus 1918
  • Tempat/Tgl. Wafat : Jakarta , 1 Oktober 1965
  • SK Presiden : Keppres No. 111/KOTI/1965, Tgl. 5 Oktober 1965
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Beliau kemudian dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti Military Police School. Setelah itu, S. Parman menjadi Atase Militer RI di London dan Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat. Sebagai perwira intelijen, beliau mengetahui rencana rahasia PKI yang akan memberontak. Penolakan atas rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani membuat beliau diculik dan dibunuh secara sadis oleh PKI dalam peristiwa G30S/PKI. Jenazah beliau disembunyikan di Lubang Buaya. Setelah ditemukan, jenazah beliau dimakamkan di TMP Kalibata.

PKI berusaha sekuat tenaga menanamkan pengaruhnya di segala lapisan masyarakat, bahkan mampu memecah belah persaudaraan. Salah satu yang terpengaruh adalah Sakirman, seorang petinggi PKI kakak dari S. Parman sendiri

,

Biografi Pahlawan Nasional Herman Yohanes

Biografi Pahlawan Nasional Herman Yohanes

Prof. Dr. Ir. Herman Johannes, sering juga ditulis sebagai Herman Yohannes . Herman Yohanes (lahir di Rote, NTT, 28 Mei1912 – meninggal di Yogyakarta, 17 Oktober 1992 pada umur 80 tahun) adalah cendekiawan, politikus, ilmuwan Indonesia, guru besarUniversitas Gadjah Mada (UGM), dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Sekitar bulan Oktober 1946 Herman Johannes menyelesaikan studinya di STT Bandung di Yogya yang kemudian menjadi cikal bakal Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada di mana dia termasuk salah satu perintisnya. Herman Johannes banyak mengabdikan dirinya kepada kepentingan negara dan bangsanya, terutama rakyat kecil. Meski lebih banyak dikenal sebagai pendidik dan ilmuwan, Herman Johannes tercatat pernah berkarier di bidang militer. Keahlian Herman Johannes sebagai fisikawan dan kimiawan ternyata berguna untuk memblokade gerak pasukan Belanda selama clash I dan II. Januari 1949, Kolonel GPHD jatikoesoemo meminta Herman Johannes bergabung dengan pasukan Akademi Militer di sektor Sub-Wehrkreise 104 Yogyakarta. Dengan markas komando di Desa Kringinan dekat Candi Kalasan, lagi-lagi Herman Johannes diminta meledakkan Jembatan Bogem yang membentang di atas Sungai Opak. Jasanya di dalam perang kemerdekaan membuat Herman Johannes dianugerahi Bintang Gerilya pada tahun 1958 oleh Pemerintah RI.

Herman Johannes adalah sepupu Pahlawan Nasional Dr. Wilhelmus Zakaria Johannes. Herman Johannes meninggal dunia pada 17 Oktober 1992 karena kanker prostat. Nama Prof Herman Johannes juga diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungkan Kampus UGM dengan Jalan Solo dan Jalan Jenderal Sudirman di kota Yogyakarta.

 

↑ Back to Top