PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Izaak Huru Doko

Biografi Izaak Huru DokoMemperbincangkan sesosok para pahlawan yang sudah berjasa dalam memperjuangkan bangsa indonesia memang tidak akan pernah da habisnya. Sudah berapa pahlawan coba yang guugr dala medan perang dan berapa daerah pula yang mempunyai sosok – sosok pahlawan anak putra daerah dan putri daerah yang rela bekorban jiwa dan raga denga kemerdekaan ibu pertiwi?

Telah kitaketahui bersama, negara indonesia mepunyai wilayah yang sangat luas. Dengan luasnya wilayah membuat bangsa indonesiamepunyai banyak putra putri daerah yang relamengorbankan waktu, pikiran, jiwa dan ragamereka untuk bisa memperjuangkan bangsa indonesia.

Nah, dikesempatan kali ini, saya kembali saya ingin membahas sesosok pahlawan indonesia, beliau bernama Izaax Huru Doko yang dilahirkan di Nusa tenggara timur (NTT) pada tanggal 20 november 1913. Beliau adalah sosok pahlawan yang berasal dari daerah nusa tenggara timur (NTT)a bersekolah di Hollands Indlandsche Kweekschool (HIK, sekolah guru) di Bandung, Jawa Barat. Bersama Herman Johannes ia mendirikan Timorsche Jongeren (Pemuda Timor) dengan tujuan mempersatukan para pelajar Timor di berbagai kota di Indonesia.

,

Mengenal Maria Josephine Catherine Maramis

Mengenal Maria Josephine Catherine MaramisMaria Josephine Catherine Maramis (lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872 – meninggal di Maumbi, Sulawesi Utara, 22 April 1924 pada umur 51 tahun), atau yang lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia karena usahanya untuk mengembangkan keadaan wanita di Indonesia pada permulaan abad ke-20.

Orang tuanya adalah Maramis dan Sarah Rotinsulu. Andries Maramis terlibat dalam pergolakan kemerdekaan Indonesia dan menjadi menteri dan duta besar dalam pemerintahan Indonesia pada mulanya.

Paman Maramis yaitu Rotinsulu yang waktu itu adalah Hukum Besar di Maumbi membawa Maramis dan saudara-saudaranya ke Maumbi dan mengasuh dan membesarkan mereka di sana.

Ini adalah satu-satunya pendidikan resmi yang diterima oleh Maramis dan kakak perempuannya karena perempuan pada saat itu diharapkan untuk menikah dan mengasuh keluarga.

Melalui kepemimpinan Maramis di dalam PIKAT, organisasi ini bertumbuh dengan dimulainya cabang-cabang di Minahasa, seperti di Maumbi, Tondano, dan Motoling. Cabang-cabang di Jawa juga terbentuk oleh ibu-ibu di sana seperti di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. Maramis terus aktif dalam PIKAT sampai pada kematiannya pada tanggal 22 April 1924.

Pada tahun 1919, sebuah badan perwakilan dibentuk di Minahasa dengan nama Minahasa Raad. Setelah pernikahannya dengan Walanda, ia lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis.

 

↑ Back to Top