PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Teuku Nyak Arif

Teuku Nyak Arif merupakan keturunan bangsawan. Ayahnya adalah Panglima Sagi XXV Mukim. Beliau menempuh pendidikan pamong praja di Bukittinggi dan Serang. Setelah Perang Aceh berakhir, Belanda kemudian berusaha menjalin kerjasama dengan tokoh lokal, termasuk para panglima sagi, antara lain memberi kesempatan bersekolah bagi anak-anak mereka.

Belanda menganggap Teuku Nyak Arif yang telah mengecap pendidikan Barat akan termasuk golongan moderat. Ia pun ditunjuk mewakili rakyat Aceh di Volksraad. Namun, Teuku Nyak Arif bersikap kritis terhadap Belanda. Akibatnya, Nyak Arif tidak terpilih kembali. Pada masa pendudukan Jepang, selain sebagai anggota Aceh Syu Sangikai (dewan rakyat Aceh), Nyak Arief juga dipercaya menjadi anggota Sumatera Cuo Sangi in (dewan rakyat Sumatera). Namun, diam-diam Nyak Arief melakukan gerakan bawah tanah menentang Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, Teuku Nyak Arif diangkat sebagai Residen Aceh pada Oktober 1945. Saat itu, tentara Jepang masih bertahan di Aceh dan menolak menyerahkan senjatanya kepada rakyat Aceh. Perang pun pecah antara pejuang Aceh melawan Jepang yang dikenal sebagai peristiwa Krueng Panjo/Bireun. Belanda yang kembali ingin menguasal Indonesia memanfaatkan keadaan tersebut. Akibatnya, setelah menghadapi Jepang, para pejuang pun kembali berperang melawan Belanda.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Banda Aceh, 17 Juli 1899
  • Tempat/Tgl. Wafat : Takengon, 4 Mei 1946
  • SK Presiden : Keppres No. 071/TK/1974, Tgl. 9 November 1974
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Sayang, di saat bersamaan timbul Pertentangan antara kaum ulama dan para Arif pejabat pemerintahan (kaum ulebalang). Para ulama beranggapan bahwa para ulebalang menjalin kerjasama dengan penjajah. Akibatnya, pecah perang yang dikenal sebagai Perang Cumbok di daerah Pidie dan meluas ke daerah lain. Untuk menghindari pertumparan darah antara saudara sebangsa, Teuku Nyak Arif selaku residen dengan sukarela membiarkan dirinya ditawan Laskar Mujahidin dan tentara perlawanan rakyat (TPR).Teuku Nyak Arief kemudian dibawa ke Takengon. Tidak berapa lama, tanggal 4 Mei 1946, Teuku Nyak Arif meninggal dunia

Biografi Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Biografi Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Sri Sultan Hamengku Buwono IX dilahirkan dengan nama Bendoro Raden Mas Dorodjatun. Beliau putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Beliau dinobatkan sebagai sultan tanggal 18 Maret 1940. Sejak usia 4 tahun, beliau dititipkan pada keluarga Belanda untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik saat itu. Setelah lulus dari HBS, beliau melanjutkan kuliah ke Belanda. Meski demikian, Sri Sultan tidak pernah kehilangan identitas aslinya sebagai seorang Jawa dan Indonesia. Hal ini beliau nyatakan dengan jelas dalam pidato penobatannya.

Beliau sangat menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Di masa Jepang, Sri Sultan Hamengku Buwono IX melindungi rakyatnya dari ancaman kerja paksa sebagai romusha dengan dalih mengadakan proyek lokal saluran irigasi yang dikenal sebagai Selokan Mataram. Segera setelah Proklamasi Kemerdekaan, Sri Sultan bersama Sri Paku Alam VII menyatakan bahwa Kesultanan Yogyakarta adalah bagian dan Republik Indonesia.Tidak hanya itu,saat pemerintah pusat terpaksa pindah ke Yogya, beliau menyediakan tempat bagi para pemimpin bangsa dan keluarganya serta membiayai jalannya roda pemerintahan. Kemudian untuk menunjukkan eksistensi Republik Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX  merancang sebuah serangan besar terhadap Belanda di Yogyakarta. Peristiwa ini dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dipimpin oleh Letkol. Suharto (presiden kedua RI). Beliau bahkan membantu melindungi para pejuang dengan membiarkan mereka bersembunyi di lingkungan keraton serta menghadang Belanda yang berusaha masuk ke dalam.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga banyak berperan di bidang pemerintahan. Sejak 1946, beliau pernah beberapa kali menjabat menteri. Pada tahun 1966, beliau menjabat Menteri Utama Bidang Ekuin. Pada tahun 1973, beliau diangkat sebagai Wakil Presiden. Di akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali dengan alasan kesehatan. Pada 2 Oktober 1988, beliau wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat, dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Bantul,Yogyakarta.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Yogyakarta, 12 April 1912
  • Tempat/Tgl. Wafat : Amerika Serikat, 3 Oktober 1988
  • SK Presiden : Keppres No. 053/TK/1990, Tgl. 30 Juli 1990
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah sosok yang rendah hati. Pernah suatu ketika beliau mendapat tilang di Pekalongan karena salah mengambil jalan yang ternyata satu arah. Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak memanfaatkan posisi dan kekuasannya tetapi mengikuti  aturan yang ada dengan patuh.

 Sri Sultan Hamengku Buwono IX

,
 

↑ Back to Top