PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Pahlawan Nasional Andi Sultan Daeng Radja

Biografi Pahlawan Nasional Andi Sultan Daeng Radja

Andi Sultan Daeng Radja menempuh pendidikan di Opleiding School voor inlandshe Ambtenar(OSVIA) di Makassar. Setelah itu, beliau bekerja menjadi pegawai pemerintah di berbagai tempat di Sulawesi Selatan. Pada tahun 1922, Belanda melantik beliau menjadi kepala adat Gemeenschap di Gantarang dan bergelar Karaeng Gantarang. Kedudukan ini membuat beliau dapat Berhubungan baik dengan organisasi kebangsaan, seperti Muhammadiyah dan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Pada tanggal 16 Agustus. 1945, beliau diajak Sam Ratulangi dan Andi Pangeran Pettarani mengikuti siding PPKI untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan.

Pada saat Australia dan Belanda datang ke Sulawesi Selatan, Sultan Daeng Raja berjuang melawan mereka dengan membentuk wadah perjuangan militer bernama Pemberontakan Bulukumba Angkatan Rakyat (PBAR). Pada tanggal 2 Desember 1945, beliau ditangkap dan dibuang ke Manado pada tanggal 17 Maret 1949. Andi Sultan Daeng Radja bebas pada tanggal 8 Januari 1950 setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Dari tahun 1951-1957, Andi Sultan Daeng Radja menjabat sebagai Bupati Bantaeng dan anggota konstituante.

  • Tempat/Tgl. Lahir :  Bulukumba, Sulawesi Selatan, 20 Mei 1894
  • Tempat/Tgl. Wafat :  Sulawesi Selatan, 17 Mei 1963
  • SK Presiden : Keppres No. 085/TK/2006, Tgl. 3 November 2006
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Usai mengikuti rapat PPKI, Andi Sultan Daeng Radja langsung kembali ke Bulukumba untuk menyampaikan kabar gembira tentang akan dilaksanakannya Proklamasi Kemerdekaan yang disambut gembira seluruh rakyat.

Andi Sultan Daeng Radja

, ,

Biografi Kusumah Atmaja : Ketua MA Pertama RI

Biografi Kusumah Atmadja

Sulaiman Effendy Kusumah Atmaja lahir di Purwakarta, Jawa Barat. Beliau kemudian lebih dikenal sebagai Kusumah Atmaja. Pemilik gelar raden ini memang berasal dan keluarga terpandang sehingga dapat mengenyam pendidikan yang layak. Kusumah Atmaja mendapatkan gelar diploma dan recht school atau sekolah kehakiman pada 1913. Selanjutnya, beliau berkarir di dunia peradilan, termasuk menjadi pegawai yang diperbantukan di Pengadilan Bogor. Beliau berhasil mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan hukumnya di Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1920. Kusumah Atmadja menyelesaikan studinya dengan gelar Doctor in de recht geleerheid pada tahun 1922. Beliau menulis disertasi yang menguraikan hukum wakaf di Hindia Belanda.

Pulang ke Hindia Belanda, Kusumah Atmaja ditawari menjadi hakim di Raad Van Justitie (setingkat Pengadilan Tinggi) Jakarta. Setahun berkiprah di sana, Kusumah Atmaja diangkat menjadi Voor Zitter Landraad (Ketua Pengadilan Negeri) di Indramayu. Sebagai hakim, beliau bertugas di berbagai daerah. Bahkan ketika Jepang masuk, Kusumah Atmaja tetap menjabat sebagai hakim. Beliau menjadi Pemimpin Kehakiman Jawa Tengah pada 1944.

Kusumah Atmaja tidak banyak terlibat dalam dunia politik karena menjunjung tinggi netralitas dan supremasi hukum. Menjelang kemerdekaan, beliau menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang ikut merumuskan dasar negara. Begitu kemerdekaan diraih, Kusumah Atmaja mendapat tugas membentuk Mahkamah Agung Republik Indonesia, sekaligus menjadi ketuanya. Sebagai Ketua MA, beliau mampu mempertahankan independensi kekuasaan kehakiman dan intervensi pihak luar. Beliau juga menolak saat ditawarkan menjadi Wali Negara Pasundan oleh Belanda yang berusaha kembali menguasai Indonesia setelah kekalahan Jepang. Kusumah Atmaja tetap memimpin MA hingga wafat pada 11 Agustus 1952.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Purwakarta, 8 September 1898
  • Tempat/Tgl. Wafat : Jakarta, 11 Agustus 1952
  • SK Presiden : Keppres No. 124/TK/1965, Tgl. 14 Mei 1965
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua MA beliau mengambil sumpah Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia pertama pada 1945 dan kedua kalinya ketika Sukarno menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat pada akhir 1949. Kusumah Atmaja

, ,
 

↑ Back to Top