PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Brigjen Katamso

Biografi Brigjen Katamso

Katamso Darmokusumo adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang terbunuh dalam peristiwa G.30S/PKI, tetapi tidak bersama para jenderal lain nya di Jakarta, melainkan di Yogyakarta, sekalipun dalam hari dan peristiwa yang sama. Usai menamatkan pendidikan menengah, beliau melanjutkan pendidikan tentara Peta di Bogor, lalu diangkat menjadi shodanco di Solo. Setelah proklamasi kemerdekaan, Katamso bergabung dengan TKR dan dilantik menjadi komandan kompi di Klaten, lalu komanda kompi Batalyon 28 Divisi IV. Beliau juga ikut bertempur selama Agresi Militer Il Belanda berlangsung. Saat operasi militer memberantas pemberontakan PRRI/Permesta pada tahun 1958 berlangsung, Katamso bertugas bersama Ahmad Yani. Pada tahun 1963, Katamso menjabat sebagai Komandan Resort Militer (Korem) 072 Kodam VIl/Diponegoro di Yogyakarta. Beliau membina dan memberi bekal kemiliteran kepada resimen mahasiswa untuk menghadapi ancaman PKI.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 di Yogyakarta, saat terjadi upaya kudeta Oleh Partai Komunis Indonesia dengan penculikan para jenderal di Jakarta, G.30 S/PKI melalui orang-orangnya di Yogyakarta pun berhasil memengaruhi sejumlah prajurit TNI serta menguasai RRI Jogjakarta, Markas Korem 072, dan mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. PKI juga menculik Katamso yang sangat menentang komunis, lalu membunuh beliau. Jasad beliau dimasukkan dalam sebuah lubang di daerah Kentungan. Jenazah Brigjen Katamso baru ditemukan 22 hari kemudian dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

  • Tempat/Tgl. Lahir: Sragen, 5 Februari 1923
  • Tempat/Tgl. Wafat: Yogyakarta, 1 Oktober 1965
  • SK Presiden: Keppres No. 118/KOTI/1965, Tgl. 19 Oktober 1965
    Gelar : Pahlawan Nasional
, ,

Muhammad Husni Thamrin

Muhammad Husni Thamrin lahir di Sawah Besar, Jakarta. Putra Betawi ini menyelesaikan pendidikan menengahnya di Konnieg Williem II, kemudian bekerja di kantor kepatihan. Prestasinya yang baik membuatnya dapat bekerja di kantor residen Batavia, lalu di perusahaan pelayaran Koninkiijke Paketvaari Maatschappij (KPM). Tahun 1923, beliau mendirikan Persatuan Kaum Betawi untuk memajukan warga Jakarta setelah sebelumnya diangkat menjadi anggota Dewan Kota Batavia (Jakarta).

Pada tahun 1927, beliau menjadi anggota Volksraad. la membentuk fraksi nasionalis untuk memperkuat gerakan nasionalisme di dewan tersebut. Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk mengungkapkan betapa besar penderitaan buruh perkebunan di Sumatera. Hal ini mendapat simpati dan banyak Negara sehingga peraturan Belanda, yaitu poenale sanctie (ancaman hukuman terhadap pekerja perkebunan) yang memberatkan rakyat dihapus.

Beliau kemudian bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra). BeIìau menjadi ketua Parindra menggantikan dr. Sutomo yang meninggaidi tahun 1938. Perjuangannya di Volksraad dilanjutkan dengan mengajukan mosi penggunaafl nama Indonesia sebagai ganti Nederlands Indic yang ditolak Belanda. Dalam perjuangannya, Thamrin memang Iebih memilih jalur kooperatif atau bersedia bekerjasama dengan penjajah, tetapi tidak kehilangan nasionalisme dan prinsipnya. Beliau pun menolak mengibarkan bendera Belanda di hari kelahiran Ratu Wilhelmina, 31 Agustus 1940. Beliau meninggal karena sakit dan upacara pemakamannya di TPU Karet dihadiri Iebih dari 20.000 orang.

  • Tempat/Tgl Lahir: Jakarta, 16 Februari 1894
  • Tempat/tgl Wafat: Jakarta, 11 Januari 1941
  • Sk Presiden: Keppres No 175 Tahun 1960, Tgl.28 Juli 1960
  • Gelar: Pahlawan Nasional

Selain sebagai pejuang, M.H Thamrin merupakan seorang pedagang yang berhasil. Dengan uangnya sendiri, ia membeli sebuah bangunan di Jalan Kenari, Jakarta, untuk keperluan perjuangan dan lapangan di daerah Petojo, Jakarta, sebagai tempat bermain bola anak-anak Betawi yang dilarang bermain di daerah Menteng. Bangunan di Jl. Kenari ini kemudian menjadi Museum M.H Thamrin

,
 

↑ Back to Top