PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Raden Ajeng Kartini | Ibu Kartini

Biografi Raden Ajeng Kartini

Kartini lahir dan keluarga ningrat. Namun,sebagai perempuan beliau juga memiliki banyak keterbatasan. Beliau terpaksa berhenti sekolah hingga sekolah dasar karena harus menjalani tuntutan adat. Keterbatasan mengenyam pendidikan memotivasi Kartini memajukan kaum perempuan Indonesia. Kekecewaan beliau akan keadaan ini diceritakan melalui surat kepada teman-temannya yang orang Belanda dan mengubah pandangan penduduk Belanda terhada perempuan pribumi di Jawa.

Kumpulan surat-surat tersebut akhirnya dibukukan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Pemikiran beliau yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi tokoh-tokoh kebangkitan nasional. Beliau bercita cita ingin memajukan perempuan Indonesia dengan mengupayakan persamaan hak dan kewajiban antara kaum perempuan dan laki-laki.

 Ketika mendapat beasiswa sekolah di Belanda, beliau dinikahkan dengan Raden Adipati Joyodiningrat sehingga tidak jadi berangkat. Akhirnya, beliau mendirikan sekolah gratis bagi perempuan di Jepara. Sekolah ini kemudian berkembang dan ditiru olehkaum perempuan di tempat lain. Tiga hari setelah melahirkan putra pertamanya,beliau meninggal dunia. Namun, semangat Kartini tetap hidup hingga kini. Cita-cita besar beliaumendorong kemajuan perempuan Indonesiase hingga pemerintah menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

  • Tempat/Tgl. Lahir: jepara, 21 April 1879
  • Tempat/Tgl. Wafat: Rembang, 17 September 1904
  • SK Presiden: Keppres No.108 Tahun 1964. TgI. 2 mei 1964
  • Gelar:  Pahlawan Nasional

Perjuangan Kartini untuk persamaan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki ini kemudian dikenal sebagai emansipasi perempuan

,

Dr. Ferdinand Lumban Tobing

Ferdinand Lumban Tobing

Ferdinand Lumban Tobing lahir di Sibuluan, Sibolga, pada tanggal 19 Februari 1899.  Keluarganya kemudian pindah ke Jawa.  Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Depok, Bogor, ia melanjutkan pelajaran ke STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta dan tamat pada tahun 1924.  Setelah itu, ia bekerja sebagai dokter di CBZ (sekarang Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo) Jakarta bagian penyakit menular.  Dari situ Ferdinand Lumban Tobing dipindahkan ke Tenggarong (Kalimantan Timur), kemudian ke Surabaya sampai tahun 1935.  Selanjutnya, ia bertugas di Tapanuli, Padang Sidempuan, lantas pindah ke Sibolga.

Pada masa pendudukan Jepang, Ferdinand Lumban Tobing diangkat menjadi dokter pengawas kesehatan romusha. Ferdinand menyaksikan langsung bagaimana sengsaranya nasib para romusha yang dipaksa membuat benteng di Teluk  Sibolga dengan rasa sedih. Karena itu, beliau melakukan protes terhadap pemerintah Jepang. Akibatnya, beliau dicurigai dan termasuk dalam daftar orang terpelajar Tapanuli yang akan dibunuh oleh Jepang. Beliau terhindar dari bahaya maut sebab berhasil menyelamatkan nyawa seorang tentara Jepang yang jatuh dari kendaraan.

Pada tahun 1943, Ferdinand Lumban Tobing diangkat menjadi ketua Syu Sangi Kai (Dewan Perwakilan Daerah) Tapanuli di samping anggota Cuo Sangi In. Pada bulan Oktober 1945 beliau diangkat menjadi Residen Tapanuli. Sebagai residen, ia menghadapi saat-saat sulit ketika daerah Tapanuli dilanda pertentangan bersenjata antara sesama pasukan RI yang datang dan Sumatera Timur setelah daerah itu jatuh ketangan Belanda dalam Agresi Militer I Belanda. Namun, Tobing yang berpendirian tegas dan tidak mudah digertak berhasil mengatasinya. Dalam Agresi Militer II Belanda, beliau diangkat menjadi Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur Selatan yang memimpin perjuangan gerilya melawan Belanda.

Setelah pengakuan kedaulatan, Ferdinand Lumban Tobing ditawari menjadi Gubernur Sumatera Utara, tetapi tawaran itu ditolaknya. Dalam Kabinet Ali I, beliau diangkat menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan (ad interim), ia juga pernah menjadi Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah dan Menteri Negara Urusan Transmigrasi. Beliau meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 7 Oktober 1962.

  • Tempat/Tgl. Lahir :  Sibolga, 9 Februari 1899
  • Tempat/Tgl. Wafat :  Jakarta, 7 Oktober 1962
  • SK Presiden : Keppres No. 361/TK/1962, Tgl. 17 November 1962
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Ferdinand Lumban Tobing merupakan tokoh yang dikenal selalu dekat dengan rakyat kecil. Sebagai pemimpin, ia selalu memimpin langsung anak buahnya, termasuk turut berjuang keluar-masuk hutan.

 Ferdinand Lumban Tobing

 

↑ Back to Top