Pahlawan Indonesia

PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Pahlawan Pangeran Antasari

Pahlawan Pangeran Antasari Biografi Pahlawan Pangeran AntasariKali ini, saya akan memberikan informasi tentang seorang pahlawan nasional yang cukup familiar di telingan kita. Beliau bernama Pangeran Antasari yang lahir di Kasultanan Banjar pada tahun 1797 beliau adalah seorang sultan banjar yan gmenyandang gelar Panembahan Amirudin Khalifatul mukminin. Ini adalah nama yang diberikan setelah beliau menjadi seorang sultan, sewaktu masih muda, beliau mempunyai nama Gusti Inu Kartapati.

Selain menjadi seorang pemimpin suku banjar, beliau jugamerupakan seorang pemimpin suku ngaju, maanyan, siang, sihong, kutai, pasir, murung, Bakumpao dan beberapa suku lainnya di kawasan dan daerah pedalaman sepanjang sungai barito. Ia merupakan seoran gpemmpin yang mempunyai ddikasi penuh sabagai seorang pewaris kesultanan banjar. Ia mempunyai slogan “Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah”Seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi “Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin”, yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi.

Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, ia harus menerima kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.Saat perang banjar pecah, pangeran antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda. pertempuran berkecamuk antara pasukan Khalifatul Muminin dengan pasukan Belanda.

Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan.[19] Perjuangannya dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Muhammad Seman

Kirim Komentarmu

Lainnya..

Powered by Facebook Comments

, ,
←More from A

↑ Kembali ke Atas