Pahlawan Indonesia

PahlawanIndonesia.com didedikasikan untuk Rakyat Indonesia agar lebih mengenal siapa tokoh dibalik berdirinya Republik Indonesia

Biografi Johannes Abraham Dimara

Biografi Johannes Abraham Dimara

Johannes Abraham Dimara adalah putra dari William Dimara, seorang kepala kampung. Masa kecil beliau dihabiskan di kampung halamannya. Saat berusia 13 tahun,  Johannes Abraham Dimara kecil diangkat anak oleh Elisa Mahubesi dan dibawa ke Ambon untuk melanjutkan sekolah. Pendidikan sekolah dasar diselesaikan tahun 1930 dan melanjutkan ke sekolah pertanian hingga tahun 1935. Setelah itu, beliau kembali bersekolah di sekolah injil dan menekuni profesi sebagai guru agama Kristen.

Pada masa penjajahan Jepang,  Johannes Abraham Dimara mendaftar sebagai anggota Heiho (tentara pembantu) yang dibentuk tentara Jepang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Belanda yang berniat menjajah kembali Indonesia hanya mengakui kedaulatan Republk Indonesia atas wilayah Jawa, Madura, dan Sumatera sesuai hasil Perjanjian Linggarjati. Dengan demikian, wilayah Indonesia Timur masih dikuasai Belanda. Pada masa inilah, Dimara bekerja sebagai polisi di Pelabuhan Namlea, Ambon.

Kedatangan kapal Sindoro berbendera Merah Putih yang membawa sejumlah anggota ALRI asal suku Maluku di suatu hari tahun 1946 menjadi pintu awal tumbuhnya semangat nasionalisme  Johannes Abraham Dimara. Beliau saat itu bertugas menyelidiki maksud kedatangan dan muatan kapal. Untuk itu,  Johannes Abraham Dimara kemudian naik ke atas kapal dan bertemu Kapten Ibrahim Saleh dan juru mudi Yos Sudarso. Dalam perbincangan, Yos Sudarso meminta bantuan Dimara agar kapal boleh merapat di pelabuhan agar dapat melanjutkan tugas menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan dan merintis perjuangan mengusir Belanda di wilayah Indonesia Timur. Bersama jiwa Nasionalisme yang mulai tumbuh, beliau bersedia membantu dan menyarankan kapal berlabuh di Tanjung Nametek, tak jauh dan Namlea, karena lebih aman. Beliau kemudian ikut berjuang dalam perjuangan merebut Irian Barat.

Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada 27 Desember 1949,  Johannes Abraham Dimara bergabung dengan Batalyon Pattimura APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) dan ikut serta dalam operasi militer menumpas RMS. Ketika Trikora dikumandangkan Presiden Sukarno, JA. Dimara ikut serta dalam upaya pembebasan Irian Barat dengan menjadi anggota OPI(organisasi Pembebasan Irian Barat).

Pertengahan Oktober 1954, bersama 40 anggota pasukannya,  Johannes Abraham Dimara melakukan infiltrasi melawan Belanda. Tujuannya adalah Membangkitkan perlawanan penduduk terhadap Belanda. Tapi rencana ini kemudian terendus Belanda. Terjadilah pertempuran antara OPI dan Belanda. Tak imbang, 11 anggota pasukan tewas. Dimara beserta pasukannya dipenjara oleh Belanda hingga 1961. Setelah bebas, Dimara kembali berjuang. Pada 1961, dia ditunjuk sebagai salah seorang anggota delegasi RI ke PBB untuk membicarakan masalah Irian Barat. Begitu kembali ke tanah air, Dimara pun diangkat menjadi Ketua Gerakan Rakyat Irian Barat. Kala Bung Karno menyerukan Trikora, Dimara pula yang menggalang kekuatan di Papua untuk mendukungnya

Pada 15 Agustus 1962, tercapai persetujuan New York Agreement yang mengakhiri konfrontasi militer.  Johannes Abraham Dimara salah satu utusan dari Indonesia yang memperjuangkannya. Dimara mengembuskan napasnya yang terakhir di Jakarta pada 20 Oktober 2000 lalu.

  • Tempat/Tgl. Lahir : Biak, 16 April 1916
  • Tempat/Tgl. Wafat : Jakarta, 20 Oktober 2000
  • SK Presiden : Keppres No. 052/TK/2010, Tgl. 11 November 2010
  • Gelar : Pahlawan Nasional

Johannes Abraham Dimara merupakan salah satu tokoh yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di tanah Papua. Sepanjang hidupnya, Johannes Abraham Dimara merupakan sosok yang memilih hidup sederhana

Kirim Komentarmu

Lainnya..

Powered by Facebook Comments

↑ Kembali ke Atas